Numpang share link mengenai IPv6.
Sehubungan dengan habisnya IPv4 di APNIC.
http://www.ip-stories.com/?p=591
Alokasi IPv6 dan Implementasinya di Indonesia (no. 17 Dunia).
http://www.sixxs.net/tools/grh/dfp/
-----------------------------------------------------------------
IPv6 Preview [BAB I]
Kenapa IPv6 ?
Pertumbuhan internet yang sangat cepat baik di segi pemakai internet di
rumah, perkantoran, sekolah, instansi-instansi maupun perkembangan pesat
perangkat telekomunikasi yang sudah mulai menggabungkan IP ke dalam
teknologinya (convergence) di seluruh dunia telah menyebabkan alamat
IPv4 dengan format 32 bit binary yang sudah digunakan sejak awal
keberadaan internet, tidak bisa lagi menampung kebutuhan pengalamatan
internet setelah jangka waktu 20 tahun kedepan atau bahkan lebih cepat
dari itu.
Demikian hasil riset dan perhitungan para pakar dari komunitas terbuka
internet (The Internet Engineering Task Force , IETF) menyebutkan.
Dengan hanya 32 bit format address hanya bisa menampung kebutuhan :
32
= 2 IPv4 Address
= 4,294,967,296 IPv4 Address
Bayangkan, penduduk dunia saat ini adalah 6,5 Milyard.
Jika nantinya masing2 punya satu komputer, 1 Lapotop (mobile), 1 PDA, 2 Handphone (GSM & CDMA).
Lalu setiap perangkat butuh 1 IP address untuk bisa connected each other.
Berapa jumlah IP yang dibutuhkan untuk taruhlah 3 Milyard penduduk dunia
(bahkan dari 4 milyard IP versi 4 ini tidak keseluruhan bisa dipakai )?
Kekurangan alamat IPv4 ini tentu saja akan membuat perkembangan internet
khususnya komunikasi data akan menjadi terganggu karena tidak ada lagi
IPv4 yang bisa dialokasikan untuk setiap computer, perangkat lain yang
akan terkoneksi baik ke internet maupun antar perangkat.
Langkah antisipasi awal sebenarnya sudah dilakukan dengan teknologi NAT
(Network Address Translation) yang bekerja dengan cara melakukan
penterjemahan satu alamat IPv4 public ke banyak IPv4 private.
Sehingga satu alamat IPv4 public bisa dipergunakan untuk banyak perangkat yang akan terkoneksi ke internet.
Teknologi ini sudah berkembang luas namun memiliki keterbatasan untuk
interkoneksi antar jaringan yang cukup besar dan berbeda kebijakan
pengalamatan, berikutnya kebutuhan gateway untuk penterjemahan alamat,
serta keterbatasan pengembangan protocol internet terutama untuk
aplikasi yang langsung terhubung satu sama lain (peer-to-peer) seperti
Peer-to-Peer Games dan VoIP misalnya yang membutuhkan IPv4 public untuk
bisa bekerja dengan baik.
Pada tahun 1992 IETF selaku komunitas terbuka internet membuka diskusi
para pakar untuk mengatasi masalah ini dengan mencari format alamat IP
generasi berikutnya setelah IPv4 (IPng, IP Next Generation) yang
kemudian menghasilkan banyak RFC (request for comments) yakni dokumen
stardard yang membahas protocol, program, prosedur serta konsep internet
IPv6.
Setelah melalui pembahasan yang panjang, pada tahun 1995 ditetapkan
melalui RFC2460 alamat IP versi 6 sebagai IP generasi berikutnya (IPng)
pengganti IP versi 4.
IPv6 ini menggunakan format 128 bit binary sehingga bisa menampung kebutuhan :
128
= 2 IPv6 Address
= 340,282,366,920,938,463,463,374,607,431,768,211,45 6 IPv6 Address
Pengembangan IPv6 sampai saat ini sudah dilakukan oleh banyak pihak yang
ada di seluruh dunia termasuk Service Provider, Internet Exchange
Point, ISP regional, Militer serta Universitas.
Untuk Indonesia sendiri sudah dialokasikan 61 prefix IPv6 untuk berbagai organisasi,
mobile operator, IXP dan ISP. Dan berdasarkan data statistic dari badan pengembangan dan penyedia tunnel broker SixXS (www.sixxs.net) hingga saat ini yang aktif :
http://www.sixxs.net/tools/grh/dfp/all/?country=id
Sabtu, 14 Januari 2012
Kecepatan Internet sampai 32 Miliar kbps
Menakjubkan emang tekno semakin hari...semakin maju.

Sebuah teknologi optik baru sedang diujicoba di Jepang. Dahsyatnya, teknologi itu mampu mencapai kecepatan 30 Terabit per detik (Tbps) atau lebih dari 32 Miliar Kbps.
Uji coba itu telah dilakukan oleh KDDI R&D Labs bersama National Institute of Information and Communications Technology (NICT) di Jepang. Teknologi yang diujicoba memanfaatkan transmisi bernama OFDM alias orthogonal frequency division multiplex.
Sekadar pembanding, kecepatan koneksi internet saat ini masih jauh –sangat jauh– dari yang dicapai dalam ujicoba tersebut. Kecepatan 500 kilobit per detik (Kbps), misalnya, sudah termasuk lumayan untuk penggunaan normal sehari-hari. Sedangkan rata-rata kecepatan internet di dunia, berdasarkan data akhir 2008, adalah 1.5 Mbps atau 1500 Kbps.
Nah, 30 Terabit per detik itu kurang lebih setara dengan 32 miliar kilobit per detik. Dengan kecepatan seperti ini, per detiknya data yang sanggup dikirimkan mencapai 3,9 juta MB, atau hampir 1.000 keping DVD film per detiknya.
ujicoba itu dilakukan pada jarak 240 kilometer, artinya bukan sekadar ujicoba jarak dekat. Rencananya KDDI akan mengkomersialkan teknologi ini pada 2012.
Sebuah teknologi optik baru sedang diujicoba di Jepang. Dahsyatnya, teknologi itu mampu mencapai kecepatan 30 Terabit per detik (Tbps) atau lebih dari 32 Miliar Kbps.
Uji coba itu telah dilakukan oleh KDDI R&D Labs bersama National Institute of Information and Communications Technology (NICT) di Jepang. Teknologi yang diujicoba memanfaatkan transmisi bernama OFDM alias orthogonal frequency division multiplex.
Sekadar pembanding, kecepatan koneksi internet saat ini masih jauh –sangat jauh– dari yang dicapai dalam ujicoba tersebut. Kecepatan 500 kilobit per detik (Kbps), misalnya, sudah termasuk lumayan untuk penggunaan normal sehari-hari. Sedangkan rata-rata kecepatan internet di dunia, berdasarkan data akhir 2008, adalah 1.5 Mbps atau 1500 Kbps.
Nah, 30 Terabit per detik itu kurang lebih setara dengan 32 miliar kilobit per detik. Dengan kecepatan seperti ini, per detiknya data yang sanggup dikirimkan mencapai 3,9 juta MB, atau hampir 1.000 keping DVD film per detiknya.
ujicoba itu dilakukan pada jarak 240 kilometer, artinya bukan sekadar ujicoba jarak dekat. Rencananya KDDI akan mengkomersialkan teknologi ini pada 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)